SARASEHAN BUDAYA MACAPAT

Kepuharjosid. Senin 15/09/2025 bertempat di pendopo Desa Wisata Batur Bedikari (Dewi Batari) dimulai pukul 19.30 WIB diadakan malam Sarasehan Budaya dan Pembinaan MACAPAT tingkat kalurahan Kepuharjo tahun 2025, dalam kesempatan ini turut hadir adalah bpk Sudaryo dari Argomulyo yang merupakan ketua sekaligus penasehat Macapat tingkat Kapanewon Cangkringan yang tergabung dalam Paguyuban Macapat Sekar Cangkring, beserta para anggotanya yang berasal dari Kalurahan Argomulyo, Wukirsari, Umbulharjo, Glagaharjo dan Kepuharjo. Gelaran malam sarasehan budaya tembang macapat kali ini diiringi oleh paguyuban karawitan Argo Gandes sebagai pengrawit dan paguyuban macapat Swara Rumpaka yang merupakan satu kesatuan dari bagian Dewi Batari padukuahan Batur dan diketuai oleh Bpk Tugiman.

Lurah Kepuharjo dalam kesempatan ini diwakili oleh Kamituwa Wiyana Suhadi menyampaikan bahwasanya budaya budaya yang ada di Kepuharjo akan terus digali dan dihidupkan kembali dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kalurahan Kepuharjo. Dengan adanya Danais (dana keistimewaan) akan dimaksimalkan untuk bisa diraih dalam kegiatan memetri budaya jawa yang adiluhung yang seakan telah tergilas oleh roda jaman modernisasi. Khusus untuk macapat hingga saat ini masih didominasi oleh kaum sepuh, untuk kalangan anak muda dan remaja belum berminat atau bahkan malah tidak mengenal.

Seiring dengan pernyataan Kamituwa tersebut, Sudaryo memberikan semangat kepada para anggotanya dan kepada warga Kepuharjo untuk mencintai dan nguri nguri budaya asli milik kita sendiri seperti macapat ini, karena dalam tembang macapat tersebut mengandung banyak tuntunan dalam menjalani kehidupan mulai dari alam kandungan samapai ke alam barzah, serta doa doa atau harapan kita kepada sang pencipta.

Macapat sendiri merupakan puisi tradisional Jawa yang dibacakan dengan cara dinyayikan, macapat memiliki aturan struktur yang disebut metrum, yang terdiri dari guru wilangan (jumlah suku kata) dan guru lagu (bunyi sajak akhir). Dalam sejarah babat tanah Jawa bahwasanya Macapat merupakan Media Dakwah yang digunakan oleh para Wali Songo dalam penyebaran agama ISlam di Jawa. Macapat juga merupakan Warisan Budaya leluhur Jawa yang syarat dengan makna dan filosofi kehidupan manusia.

Sebagai pembeda dengan budaya yang lainnya adalah Macapat bersifat tembang karena harus dibacakan dengan cara dinyanyikan, sehingga sering juga disebut dengan sekar macapat. Sarat dengan makna dan filosofi yang mengandung nilai nilai luhur dan pesan moral serta nilai estetika yang indah. Struktur Metrum (Pakem) terdapat atiran baku dalam tembang Macapat, seperti Guru Gatra (jumlah baris dalam satu bait). Guru Wilangan (jumlah wilangan dalam setiap gatra) dan Guru Lagu (bunyi vokal diakhir setiap gatra).

Jenis Tembang Macapat yang umum dikenal seperti mas kumambang, mijil, sinom hingga pocung menggambarkan berbagai siklus tahapan manusia dari alam kandungan, alam dunia yang dimulai dari bayi, remaja, muda, dewasa hingga ke alam kematian, yang dikemas secara halus dan penuh makna, sehingga tembang Macapat adalah menggambarakan kehidupan manusia.

Dalam budaya tembang Macapat terdapat sebelas tembang dan mempunyai makna yang berbeda satu dengan yang lainnya dan itu merupakan urut urutan siklus kehidupan manuasia, seperti Maskumambang yang melambangkan tahap awal kehidupan manusia saat masih dalam kandungan atau alam ruh. Mijil menggambarkan kelahiran bayi kedunia, seperti biji yang lahir dan membutuhkan kasih sayang serta perlindungan. Kinanthi yang berasal dari kata “kanthi “yang berarti menunutun, menggambarkan masa kanak-kanak yang memerlukan tuntunan untuk menggapai cita cita. Sinom yang mempunyai arti “ pucuk daun muda” menggambarkan masa remaja yang penuh harapan dan pertumbuhan. Asmarandana mengisahkan gejolak cinta dan asmara ketika seseorang tengah mabuk kepayang. Gambuh melambangkan bersatu atau jodoh menceritakan fase menjalin hubungan yang harmonis dalm pernikahan. Dhandhanggula menggambarkan fase kehidupan yang telah mapan dan sejahtera, penuh kebahagiaan dan manisnya kehidupan. Durma menjelaskan sifat manusia yang cenderung angkara murka, serakah, dan mudah berontak, serta perlunya untuk berderma. Pangkur mempunya arti “menyingkir” menggambarkan tahap usia tua dimana seseorang mulai menjauhkan diri dari hawa nafsu dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Megatruh yang berasala dari kata “megat“(terpisah) dan “ruh” (nyawa) melambangkan kematian atau terpisahnya nyawa dan jasad. Pocung menggambarkan tahapan terakhir kehidupan, yaitu kematian, seperti jenazah yang dibungkus kain mori atau “dipocong“.

ariesbintang 190925

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *