
Upacara Adat Dandan Kali atau Becekan, diselenggarakan oleh masyarakat Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, khususnya masyarakat Dusun Kepuh, Manggong, dan Pagerjurang. Upacara dilakukan setiap “mangsa kapat” (September – Oktober) pada hari Jumat Kliwon di lokasi dekat aliran Kali Gendhol, dekat hulu di lereng Gunung Merapi.
Upacara berupa gotong royong membersihkan aliran kali Gendhol dan kali-kali kecil di sekitarnya. Kerja bakti disertai penyebelihan 3 ekor kambing yang langsung dimasak di lokasi upacara dengan resep “becek” (sejenis gulai) oleh kaum laki-laki. Sementara kaum perempuan menyiapkan uba rampe lain kelengkapan adat, utamanya abeng berupa nasi yang nantinya dikirim ke lokasi.
Apapun ceritanya, Dadan Kali punya banyak kisah. Kisah pertama, perihal arti penting perawatan aliran sungai sebagai sumber mata air. Kisah kedua, perihal kenduri makan bersama dengan sajian menu dari sumber daya yang masyarakat pendukungnya punya, yaitu kambing dan beras. Kisah ketiga, datangnya musim kemarau panjang dan pentingnya air hujan segera turun karena mereka menyusun kekuatan bersama melalui doa. Kisah keempat adalah banyak hal yang masih terpendam dan tersembunyi dalam pengetahuan tradisi yang bersifat simbolik penuh makna dan ajaran nilai.
Membersihkan aliran sungai, memelihara sumber mata air. Tindakan ini menjadi penting dilakukan atas aliran sungai yang labil akibat tumpukan lahar, pasir kuwarsa, dari gunung api yang terus terjadi setiap waktu. Kali Gendol dan kali–kali disekitarnya di kawasan Desa Kepuharjo selalu berubah posisi dan sering terjadi tertutupnya mata air lama sekaligus munculnya mata air baru. Gotong royong bersih–bersih aliran sungai bagaikan upaya pelacakan sumber mata air baru untuk diperlancar debitnya sehingga sungai selalu terisi dan teraliri air. Konservasi air memiliki basis pengetahuan keterjagaan siklus dan sirkulasi air tanah yang bermula dari air hujan (langit) yang tersimpan dalam tanah (bumi) sebagai persediaan kebutuhan air untuk kehidupan, manusia, ternak, dan tanaman.
Melalui Dandan Kali, masyarakat pendukung adat Becekan yang berada di posisi geografis dan geologis tinggi dalam kawasan tangkapan air hujan, akan menjadi bagian penyelematan ketersediaan air bagi kawasan–kawasan selreng dan lembah sis selatan Gunung Merapi. Karena itu, Dandan Kali bukan hanya adat oleh dan untuk masyarakat Kepuharjo, namun sejatinya Dandan Kali juga berpikir dan bertindak untuk ketersediaan air seluruh kawaan di bawahnya.Kalau Kepuharjo saja kesuelitan air, kalau Kepuharjo saja tidak pernah ada hujan, bagaimana nanti nasih warga di kawasan lereng bawah dan lembah–lembah. Baik dari ketersediaan air tanah maupun air aliran permukaan yang ada di sungai, selokan, jaringan pipa air minum, dan salurun irigasi pertanian. Adat Becekan memiliki dampak luas seluas pemikiran dan filosofi yang melatarbelakanginya.
Uraian ini memberi tanda bahwa adat telah menerapkan konsep besar “ibu bumi bapa kawasa”, relasi bumi yang menyerap dan menyimpan air, dan angkasa (langit) yang menurunkan hujan. Konsep dasar Jawa “ibu bumi bapa akasa” in bagian dari konsep besar yang dijadikan landasan filosofi Yogyakarta, memayu hayuning bawana. Makin diyakini bahwa filosofi memayu hayuning bawana adalah falsafah pemeliharaan air karena diyakini bahawa air adalah sumber kehidupan. Dandan Kali, adat dengan cakupan idealisasi dan pengetahuan tinggi sekaligus strategis.
Dandan Kali bukan sebatas adat minta hujan karena kemarau panjang, tetapi juga dikembangkannya perilaku konservasi air baku, air tanah. Adat Dandan Kali mencakup keselamatan manusia, vegetasi, dan hewan piaraan yang tetntu saja termasuk biota–biota lain yang hidup di alam. Membersihkan aliran sungai–sungai dan pesta makan gulai (becek) kambing disertai doa–doa permohonan terkait keberadaan air dari hujan sejatinya mengandung ilmu pengetahuan tinggi. Khususnya dalam konservasi air, perawatan vegetasi dan ternak, serta pula tata guna lahan terkait dengan ketersediaan air.
Dadan Kali atau Becekan diselenggarakan secara natural sebagaimana kehidupan sehari–hari mereka. Doa bersama seluruh warga dan tamu undangan (kenduri), puncaknya makan bersama dengan menu becekan kambing dan nasi ambeng. Salah satu tujuan upacara ini adalah permohonan datangnya hujan di puncak musim kemarau.
Artinya, Dadan Kali juga memuat pengatahuan lain tentang pranata mangsa. Pemilihan penyelenggaraan pada “mangsa kapat” (musim keempat) memang jika tidak terjadi salah mangsa adalah musim kemarau paruh terakhir.
Kepuharjo, kawasan spesisifik dalam wilayah kultur lereng Gunung Merapi. Di samping Merapi memiliki mitologi besar menurut pemahaman Yogyakarta, tra tradisi budaya Mataraman, Gunung Merapi secara material juga merupakan gunung api aktif yang dampak aktivitas kegempaan vulkanis dan erupsi sangat berpengaruh pada alam dan kehidupan sosial masyarakat Kepuharjo, kawasan terdekat dan terdapat Merapi. Meski dalam status sudah terlalu akrab dan terbiasa dengan “bahasa Merapi” namun adat Becekan atau Dandan Kali sulit mereka tinggalkan karena bagi masyarakat upacara adat ini sebagai bagian dari cara mereka melakukan komunikasi spiritual dengan kuasa–kuasa alam Merapi.
Karena itu, masyarakat yang sedang bergotongroyong membersihkan aliran sungai tidak pernah melupakan titik titik tepian sungai yang memliki riwayat, kisah dan dongengan tertentu, utamanya yang bersifat sakral dan dikeramatkan. Pemberian perhatian itu biasanya tertuju pada titik terdapatnya pohon besar di tepi sungai yang memungkinkan adanya mata air didekatnya.
Dandan Kali, merawat dan memperbaiki kondisi (membersihkan aliran sungai) bagian dari bentuk kesyukuran atas kemurah bumi menyediakan aliran air. Suatu ketika, konon dikisahkan, Kepuharjo kemarau panjang, lebih dari delapan bulan lamanya. Ketika itu, entah kapanntahunnya, penduduk membuat upacara adat membersihkan sungai dengan tanda peneyembelian kambing untuk dimakan bersama. Mereka dalam pakaian sehari–hari bergotong royong membersihkan kali dan memasak daging kambing. Daging yang mereka masih dibagi rata untuk semua warga dan mereka yang datang menyertai upacara doa. Mereka dalam suasana sehari–hari dan kerja bakti massal, menyantap hidangan yang mereka masak sendiri.
Kambing yang dipotong dan dimasak berasal dari iuran warga. Jenis kambing yang disembelih harus jenis kambing Jawa. Kambing dalam arti kata Jawa bisa bermakna pula sebagai menda atau wedhus. Nama dasar dalam pengetahuan tradisi adalah menda bukan kambing. Menda, hewan ternak yang banyak dipiara petani setempat sehingga menjadi bahan kenduri makan bersama yang terjangkau serta pula memiliki rasa yang digemari oleh kebanyakan orang. Artinya, Dadan Kali adalah adat yang mengkalkulasi bahan baku kegiatan dari sumber–sumber setempat dan mudah didapatkan. Prinsip lain yang dikembangkan, lokasi utama adalah sungai. Berisi upaya pelestarian sumber dan aliran air. Berisi doa–doa dan dalam kesyukuran makan bersama dalam suasana sehari–hari tanpa kelas–kelas sosial tertentu. Dandan Kali memiliki kekuatan natural otentik, berupa kedekatan manusia dalam alam lingkungannya.
Dandan Kali mewartakan banyak makna. Pertama, perayaan penghargaan atas air sebagai sumber kehidupan utama. Kedua, pemahaman mendalam arti penting keterjagaan siklus air dan kaitannya relasa langit dan bumi yang termediasi oleh lautan. Ketiga, kesadaran sosial hidup bersama dan bersama hidup. Karenanya, kerja sama melalui cara gotong royong merawat alam menjadi keharusan dalam hidup. Keempat, dalam kebersamaan itu kesyukuran dalam bentuk doa dan berkat makan bagian tak terpisahkan karenanya kenduri dan makan bersama menjadi kebiasaan berharga. Kelima, jenis makanan yang terbaik dari sumber keswadayaan menjadi acuan kemandirian dan keswadayaan, apalagi dimasak dengan resep–resep lokal yang amat dikenal. Keenam, penghargaan atas kaum perempuan dan perawatan atas kesehatan reproduksi menjadi fokus naluri, Ketujuh, adat secara keseluruhan menghapus sekat–sekat hirarki sosial karena semua yang terlibat dalam adat dalam posisi setara. Kedelapan, adat Dandan Kali juga menyertakan hitungan pranata mangsa, dan kalkulasi musim untuk pola tanam lahan pertanian. Selebihnya, adat Dandan Kali adalah sarana mempererat hubungan sosial di antara masyarakat pendukungnya dan warga luar yang terserta dalam adat. Kekuatan adat Dandan Kali ada pada keswadayaan dan kebersamaan menjaga alam.
