Pada zaman dahulu sebelum beras menjadi bahan pokok utama seperti saat ini,masyarakat Padukuhan Kaliadem masih akrab dengan jagung. Jagung bukan hanya dijadikan camilan tetapi diolah menjadi makanan pokok terutama ketika beras sulit diperoleh, makanan itu disebut dengan nasi jagung atau dikenal juga sebagai sega jagung. Hingga kini, tradisi memasak nasi jagung tetap hidup sebagai warisan kuliner leluhur.
Prosesnya dimulai dari menyiapkan jagung pipil yang sudah kering. Jagung tersebut ditumbuk menggunakan lumpang dan alu atau digiling hingga menjadi butiran halus yang disebut ampok atau empok jagung. Butiran ini kemudian diayak agar hasilnya lebih halus dan nyaman dimakan. Biasanya, masyarakat mencampurkan empok jagung dengan beras dengan perbandingan tertentu, agar teksturnya pulen dan rasanya lebih gurih.
Alat yang digunakan masih sederhana, seperti dandang (kukusan besar dari logam), panci tradisional, dan kukusan anyaman bambu. Api diperoleh dari kayu bakar di pawon (dapur tradisional), sehingga aroma nasi jagung lebih harum dan khas.
Cara memasaknya pun unik. Pertama, empok jagung dicuci bersih, lalu dimasak bersama beras hingga setengah matang. Setelah itu ditiriskan, lalu dikukus kembali di atas dandang hingga benar-benar matang. Proses pengukusan ini membutuhkan kesabaran, karena api dari kayu bakar harus dijaga agar tidak terlalu besar ataupun padam.
Nasi jagung bukan sekadar makanan sehari-hari, tetapi juga menjadi simbol kesederhanaan dan kearifan lokal masyarakat Kaliadem. Melalui tradisi memasak nasi jagung, warga masih bisa merasakan kehangatan kebersamaan, mengenang masa lalu, sekaligus melestarikan kearifan kuliner nenek moyang.
