Seni di Padukuhan Kepuh

August 27, 2025

DAPOBUD-OPK: Seni,

Padukuhan Kepuh adalah salah satu dusun yang masih menjaga dengan baik warisan seni dan budaya leluhur. Bagi masyarakat setempat, seni bukan hanya sebatas hiburan semata, tetapi juga sarana untuk memperkuat kebersamaan, menyalurkan ekspresi, sekaligus melestarikan nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Dari generasi ke generasi, berbagai bentuk kesenian masih tumbuh dan hidup di tengah masyarakat, di antaranya uyon-uyon, ketoprak, dan jatilan.

Uyon-uyon adalah pertunjukan seni karawitan Jawa, yaitu penyajian gending (lagu-lagu) dengan iringan gamelan, yang seringkali ditampilkan pada acara-acara hajatan atau acara tradisional suku Jawa. Secara harfiah, “uyon-uyon” berasal dari kata “manguyu-uyu” yang berarti persembahan gending, dilantunkan oleh pesinden dan penggerong, diiringi gamelan. Dalam uyon-uyon, masyarakat tidak hanya mendengarkan musik, melainkan juga meresapi setiap lirik tembang yang berisi petuah, doa, maupun nasihat kehidupan. Peralatan yang digunakan dalam uyon-uyon berupa seperangkat gamelan, antara lain kendang, bonang, saron, gender, gong, dan kenong. Tidak ketinggalan rebab dan suling yang membuat alunannya semakin merdu. Semua alat musik ini dimainkan secara selaras, menghasilkan suasana yang damai dan menyejukkan hati.

Sedangkan Ketoprak adalah seni pertunjukan drama tradisional Jawa yang menggabungkan unsur cerita, dialog, musik, dan tari. Kisah yang dibawakan biasanya berupa cerita sejarah, legenda, maupun lakon yang mengandung pesan moral. Dalam pertunjukan ketoprak, terdapat pula unsur humor yang membuat penonton merasa terhibur. Selain memberikan hiburan, ketoprak juga menjadi wadah untuk menyampaikan kritik sosial, sindiran, dan ajakan kepada masyarakat agar selalu menjaga persatuan, kejujuran, dan nilai-nilai luhur kehidupan. Untuk mendukung pertunjukan, digunakan berbagai peralatan seperti gamelan sebagai musik pengiring, kostum tradisional Jawa, tata rias, serta properti panggung seperti keris, tombak, payung, hingga perlengkapan rumah tangga sederhana sesuai alur cerita.

Tidak kalah menarik adalah kesenian jatilan atau kuda lumping yang masih lestari di Padukuhan Kepuh. Jatilan merupakan tarian rakyat yang menggunakan kuda kepang dari anyaman bambu sebagai properti utamanya. Gerakan tarian yang dinamis, diiringi dengan musik gamelan yang rancak, menciptakan suasana meriah dan penuh semangat. Penari jatilan juga memakai kostum berwarna-warni dengan hiasan kepala dan gelang kaki yang menambah kesan meriah. Kadang ada pula peralatan pendukung atraksi magis, misalnya cambuk (pecut) yang digunakan dalam beberapa bagian tari sehingga para penari mengalami kesurupan atau adegan kebal terhadap benda tajam. Hal ini menambah daya tarik tersendiri bagi penonton.

Lewat uyon-uyon, ketoprak, dan jatilan, Padukuhan Kepuh mampu menjaga tradisi seni tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Kesenian ini bukan hanya tontonan, tapi juga jadi perekat kebersamaan antarwarga. Setiap generasi dari usia anak-anak, remaja, sampai dewasa baik puta maupun putri diajak untuk ikut melestarikannya, sehingga budaya yang diwariskan leluhur tidak hilang begitu saja. Seni di Padukuhan Kepuh benar-benar menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari: ada hiburan, ada pesan moral, dan tentu saja ada kebanggaan yang membuat masyarakatnya semakin mencintai budaya mereka sendiri.