Padukuhan Kepuh menyimpan berbagai tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur. Cerita-cerita tersebut tidak hanya menjadi pengikat identitas warga, tetapi juga menjadi pedoman hidup dan cermin nilai kebersamaan. Berikut beberapa tradisi lisan di Padukuhan Kepuh:
- Asal Usul Dusun Kepuh
Menurut cerita lisan, nama “Kepuh” berasal dari pohon kepuh yang tumbuh besar dan rimbun di wilayah ini pada masa lalu. Dari situlah masyarakat setempat menyebut tempat tinggal mereka dengan nama Kepuh, yang hingga kini tetap lestari sebagai nama padukuhan.
- Tradisi Dandan Kali/ Becekan
Dandan kali adalah salah satu tradisi yang sampai saat ini masih dilestarikan warga dusun kepuh, dimana warga mengadakan acara adat penyembelihan kambing di sungai gendol. Dandan kali dilaksanakan pada saat musim kemarau, dengan tradisi dandan kali warga masyarakat berharap atau memohon kepada Tuhan agar segera turun hujan, tanah menjadi basah, dan sumber mata air di wilayah padukuhuan kepuh bisa mengeluarkan airnya.
- Kenduri
Tradisi kenduri juga menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Kepuh. Kenduri dilakukan untuk berbagai keperluan, seperti syukuran panen, selamatan rumah, maupun memperingati peristiwa tertentu. Dalam kenduri, warga berkumpul, berdoa bersama, dan berbagi makanan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan.
- Bersih Makam ( Besik/ Metal)
Tradisi lain yang masih lestari adalah bersih makam, warga padukuhan kepuh melakukan bersih makam setiap hari Minggu Wage. Mereka mencabuti rumput, menata batu nisan, dan memanjatkan doa bersama. Tradisi ini tidak hanya sebagai bentuk penghormatan kepada orang-orang yang telah tiada, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya menjaga silaturahmi antarwarga melalui kegiatan gotong royong.
Dengan demikian, tradisi lisan di Padukuhan Kepuh menggambarkan kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, serta kepedulian terhadap lingkungan.
