Ragam Adat di Dusun Batur

August 26, 2025

DAPOBUD-OPK: Adat Istiadat,

Masyarakat Dusun Batur masih menjaga dan melestarikan berbagai tradisi turun-temurun yang berkaitan erat dengan siklus kehidupan, pertanian, dan kepercayaan terhadap alam serta leluhur. Beberapa adat istiadat penting yang masih dilakukan hingga saat ini antara lain:

  1. Kenduri (Syukuran dan Selamatan)__Kenduri adalah tradisi syukuran atau selamatan yang dilakukan untuk berbagai keperluan, seperti menyambut kelahiran, pernikahan, pindah rumah, panen, atau memperingati kematian seseorang. Acara ini biasanya diisi dengan doa bersama, pembacaan tahlil atau ayat-ayat suci, serta makan bersama dengan warga sekitar. Kenduri menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan dan juga mempererat tali silaturahmi antarmasyarakat.
  2. Upacara Pitonan__Upacara pitonan adalah peringatan hari lahir seorang anak yang dilakukan setiap 35 hari (selapanan) menurut penanggalan Jawa. Dalam acara ini biasanya dilakukan doa bersama, pemberian sesaji, dan penyajian makanan sederhana sebagai ungkapan syukur dan permohonan keselamatan bagi sang anak. Pitonan juga menjadi sarana menjalin hubungan sosial antarwarga, terutama keluarga dekat dan tetangga.
  3. Susupan dalam Upacara Keberangkatan Jenaza__Susupan merupakan bagian dari prosesi adat saat akan memberangkatkan jenazah menuju pemakaman. Dalam tradisi ini, keluarga mengundang warga untuk berkumpul dan bersama-sama mengiringi kepergian jenazah. Sebelum berangkat, biasanya dilakukan doa dan permohonan maaf dari pihak keluarga kepada masyarakat atas kesalahan almarhum semasa hidup. Susupan mencerminkan penghormatan terakhir dan solidaritas sosial masyarakat.
  4. Wiwitan (Sedekah Sebelum Pelaksanaan Panen Pertanian)__Wiwitan adalah tradisi sedekah atau syukuran yang dilakukan menjelang panen. Masyarakat membawa hasil pertanian, seperti padi atau palawija, lalu menggelar doa bersama sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi yang akan dipanen. Sajian berupa makanan tradisional juga disiapkan dan dibagikan kepada warga. Tradisi ini memperlihatkan keharmonisan antara manusia dengan alam serta rasa syukur kepada Sang Pencipta.
  5. Sajenan (Ngguwangi)__Sajenan atau ngguwangi adalah tradisi memberikan sesaji di tempat-tempat tertentu yang dianggap sakral  di Dusun Batur. Tujuan dari sajenan ini adalah untuk menjaga keharmonisan antara manusia dan makhluk halus (roh penjaga tempat), serta sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur. Sesaji biasanya berisi makanan, kembang, dan dupa yang diletakkan pada waktu-waktu tertentu, seperti malam Jumat atau saat ada peristiwa khusus.
  6. Penentuan Hari Baik Menurut Perhitungan Jawa__Dalam berbagai aspek kehidupan, masyarakat Dusun Batur masih memegang teguh kepercayaan terhadap penentuan hari baik atau “wetonan”. Perhitungan ini digunakan untuk menentukan waktu yang tepat dalam menggelar acara penting seperti membangun rumah (ndandani omah), menikahkan anak (mantu), melakukan jual beli besar, maupun memulai musim tanam (pranata mangsa). Perhitungan dilakukan berdasarkan kalender Jawa dan biasanya melibatkan sesepuh  yang memahami ilmu titen dan neptu hari.

Tradisi-tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi mengandung nilai-nilai spiritual, sosial, dan budaya yang memperkuat hubungan antar warga serta menjaga keharmonisan dengan alam dan leluhur. Meskipun zaman terus berkembang, masyarakat Dusun Batur tetap berusaha menjaga dan melestarikan adat istiadat ini sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya.