Di Padukuhan Manggong adat istiadat merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi penanda identitas budaya, tetapi juga sarana mempererat hubungan sosial dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan. Warga Manggong percaya bahwa menjaga adat berarti menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Karena itu, setiap kegiatan adat dilakukan dengan penuh kesungguhan, meskipun zaman terus mengalami perubahan. Berikut beberapa adat yang masih dilestarikan warga padukuhan manggong :
- Adat Kenduri Slametan
- Surtanah yaitu meminta maaf kepada leluhur apabila dalam pembuatan ruat/liang lahat ngesur atau geser kuburan sebelahnya
- Tiga (3) harian yaitu memintakan maaf selama 3 hari meninggal sampai 7 hari ada salah
- Tujuh (7) harian yaitu memintakan maaf apabila selama 7 hari sampai 40 hari ada salah
- Kenduri Muludan yaitu sedekah untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW
- Kenduri Brokohan yaitu brokohi jabang bayi yang baru lahir dan ibunya yang habis melahirkan
- Kenduri Pitonan yaitu untuk mendoakan supaya jabang bayi yang ada di kandungan 7 bulan sampai lahir tidak ada gangguan apapun
- Dandan Kali yaitu permohonan supaya mata air yang ada di sekitar lokasi bias lestari, pelaksanaannya setiap mongso 4 hari jumat kliwon
- Guwangi/ Sajenan yaitu sedekah untuk danyangsemoro bumi cikal bakal
- Gubrekan yaitu syukuran untuk hewan peliharaan supaya bisa beranak
Secara keseluruhan, adat istiadat di Padukuhan Manggong bukan sekadar ritual, melainkan wujud nyata dari nilai luhur: kebersamaan, kerukunan, gotong royong, dan rasa syukur. Tradisi ini juga berfungsi sebagai perekat sosial yang menjaga keharmonisan hidup antarwarga. Dengan semangat melestarikan adat, masyarakat Manggong berusaha menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan relevan, meskipun menghadapi arus modernisasi dan perkembangan zaman.
